Posted by: wibi | February 28, 2013

Bank Sebagai Sarana Transaksi

Bandung, 28 Februari 2013, 10.15 wib

image

Zaman dulu,gak ada yang namanya bank. Pertukaran barang dilakukan secara barter. Kamu punya apa, saya punya apa, cocok, silahkan ditukar.

Seiring berjalannya waktu, metoda barter mulai ditinggalkan karena dianggap menyulitkan. Bayangkan, saya hanya butuh beras 10kg yang harganya sekitar 200ribuan, dan saya punya 1 ekor sapi yang harganya sekitar 11jutaan. Kalo dibarter begitu saja, tentu saya rugi bukan..

Kemudian muncullah standar baru berupa emas dan perak. Tiap barang dan jasa dinilai dengan logam mulia ini. Permasalahan pun muncul. Kemana2 kita mesti bawa logam mulia ini yang tentu merepotkan dalam hal membawanya.

Sampailah kita pada zaman sekarang, alat tukar berupa uang. Uang kertas, ringan dan mudah dibawa kemana2. Semakin maju zaman, uang pun berubah menjadi sebuah kartu plastik. Entah itu kartu kredit maupun kartu debit.

Bank, ialah salah satu institusi yang dengan berbagai macam kemudahannya memberikan layanan bagi kita untuk melakukan transaksi. Ya, transaksi. Bukan yang lain.

Menabung bagi saya tidak cocok di bank. Menabung itu cocoknya di aset fisik yang nilainya terus naik dibanding inflasi. Syukur-syukur aset fisik itu bisa produktif. Misal rumah yang dikontrakkan atau simpanan emas yang bisa diperjualbelikan.

Benar, bank hanya hanya sebagai alat transaksi, tidak lebih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: