Posted by: wibi | January 10, 2008

Ceramah yang Menggugah..

cozy home, 11.47 wib

Suatu saat di hari Nan Fitri usai bulan penuh berkah, Ramadhan yang lalu.. Mesjid Al Hidayah tempat kami sekeluarga solat Ied, mengundang seorang Ustad yang berasal dari Pesantren Daruut Tauhid, – sebuah Pesantren yang didirikan oleh Ustad Nasional yang terkenal, Aa Gym – untuk berceramah setelah solat Idul Fitri..

Sangat menarik isinya, menggugah dan mengalir, sehingga waktu pun bergulir tidak terasa.. Tentang ilmu bergaul yang Beliau sampaikan..

Berikut akan saya sampaikan intisarinya saja, tentu sesuai dengan pengkapan yang saya peroleh.. Adapun yang benar hanya dari Allah, dan yang salah dari saya sendiri.. Jadi kaya Dorce ni hehe..

Ada dua kunci dalam bergaul..

  1. Selalu mengingat-ngingat kebaikan orang lain kepada kita, dan lupakan hal yang buruk, yang menyakitkan, yang telah diperbuat oleh orang lain kepada kita.
  2. Selalu mengingat-ngingat kesalahan kita kepada orang lain, dan lupakan kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain..

Ini sesuai dengan cerita seorang yang bijaksana pada zaman dahulu. Mungkin ada beberapa teman yang pernah tau. Tentang dua orang sahabat yang berjalan di tengah padang pasir. Dalam perjalanan, mereka melewatinya dengan suka dan duka, perselisihan kerap terjadi dan kebahagiaan pun kerap mereka rasakan silih berganti.

Nah pesan yang diberikan orang bijak tersebut adalah, jika Kamu mendapati sesuatu kebaikan dari sahabatmu, tulislah kebaikan itu di sebuah nisan, agar abadi. Namun, jika Kamu mendapati sesuatu yang buruk, yang menyakitkan hati, tulislah pengalaman itu di atas pasir.. Agar mudah tertiup oleh angin dan tidak meninggalkan bekas yang abadi.

Terkait dengan isi ceramah yang dua poin diatas, untuk yang pertama memang pada awalnya sulit untuk dilakukan. Sulit rasanya untuk mengakui kehebatan, kebaikan, dan mungkin adakalanya sangat sulit kita memuji, membuat orang lain geer. Gengsi rasanya. Saya sebagai manusia normal juga sangat pernah mengalami hal seperti itu. Namun, Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, dan keinginan untuk memperbaiki diri dan terus belajar, sedikit demi sedikit, lambat laun, saya mulai mudah melakukan pujian terhadap orang. Teuteup, ada konsekuensinya tentu, dibilang tukang gombal.. Padahal mungkin orang yang saya puji udah terbang duluan hidungnya hehe.. Who Knows.. Yang penting, saya memberikannya secara tulus kok..đŸ™‚

Dan mengenai hal-hal yang menyakitkan yang diperbuat oleh orang lain kepada kita, lupakan saja.. Maafkan saja.. sulit memang, namun jika sering dilatih, pasti bisa.. Ikhlasin aja meeennn!!


Nah untuk yang kedua, ini juga sama sulitnya. Bagaimana mungkin kita selalu mengingat kesalahan kita.. Malu rasanya.. Untuk pelajaran ini, kita patut berguru pada seorang Tukul Arwana, Pelawak yang terkenal lewat empat mata-nya.. Dia (Tukul-red) tidak segan-segan untuk menghina dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri.. Namun itulah kehebatan dirinya, itu menunjukkan kualitas diri seorang Tukul yang rendah hati..

Mengenai melupakan kebaikan kita kepada orang lain, ini saya mengartikan bahwa setiap perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain, sudah seharusnya dilakukan tanpa pamrih, tulus ikhlas seperti matahari menyinari alam semesta ini.. Tidak pandang bulu, tidak pilih-pilih, semua Dia berikan tanpa pamrih..

Semoga apa yang saya tulis bermanfaat kawan, dan kita sama-sama berdoa semoga alam ini selalu indah, dan selalu memberikan manfaat kepada kita semua.. amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: