cozy home, 03.23 wib
“Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fii sabiilillah”. (HR. Imam Ahmad).
Kalimat dia atas diambil dari email yang teman saya kirimkan beberapa waktu yang lalu, yang selalu menyemangati saya dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan ini..
Di tulisan ini, saya ingin share tentang pengalaman Sang Nabi Besar kita, Muhammad SAW dalam berbisnis. Berikut, secara singkat saya tuliskan pengalaman Rasulullah dalam berbisnis..
Bagaimana enterpreneurship Rasulullah SAW? Ternyata, beliau adalah seorang pedagang. Rasulullah semenjak usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun ke Syiria hafilah dagang, itu luar biasa jauhnya. Dan usia 25 tahun, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda.
Ideal rasanya jika kita bisa seperti Beliau. Namun, kita tetap manusia, yang lengkap dan sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Membaca perjalanan Nabi sejak kecil, jadi teringat dulu sewaktu masih kecil dan tinggal di Tasikmalaya.
Dulu, sewaktu saya berumur kurang lebih 7-8 tahun, bersekolah di kelas 2 SD, sering mengisi waktu Ramadhan dengan menyewakan buku-buku di alun-alun kota. Buku yang saya punya, dan sedang ngetren pada zaman itu adalah buku yang bercerita tentang Petruk dan Gareng, dan ada beberapa majalah Bobo.
Nah untuk melengkapi bacaan, saya pinjam majalah Ibu, Kartini namanya kalo tidak salah yang populer dengan rubrik “Oh Mama Oh Papa”, untuk saya sewakan juga. Bekerjasama dengan teman, mulailah saya menyewakan di hamparan pinggir alun-alun kota Tasik yang tidak jauh dari tempat saya tinggal.
Masi saya ingat, dan kadang membuat bibir ini nyengir, tersipu malu dan rasa lainnya yang membuat asa ini tertawa, kalo diingat berapa rupiah saya dapat di hari pertama saya menyewakan buku-buku tersebut. Iya, Rp.125. Seratus dua puluh lima rupiah saja. Dan itu saya bagi dua dengan teman saya. Saya Rp.75, dan temen saya Rp.50. “Gak papa lebih besar dikit, kan banyakan buku kamu”, begitu teman saya berkomentar perihal penghasilan yang kami dapat.
Sekarang, kalo saya ingat masa itu, apakah memang ini ya jalan saya. Menjadi wiraswasta?? Yah, semoga, untuk saat ini, inilah jalan saya. Semoga konsisten dari awal. Bersyukur, ada teman saya yang memberikan comment tentang kekonsistenan ini. Semoga kekonsistenan ini terus terjaga. Amin. Mohon doa dan dukungannya ya teman. Apalah arti seorang Wibi tanpa orang-orang hebat di sekitar saya seperti Anda, ya Anda yang juga membaca tulisan ini.
Terimakasih telah menjadi sahabat terbaik saya..
Posted in Cerita Bisnis


